Pertanyaan mendasar yang harus kita jawab bersama: nilai pendidikan seperti apa yang harus menjadi kebanggaan kita sebagai masyarakat Kab. Bone? Dan karya pendidikan seperti apa yang mampu kita bawa hingga ke kancah nasional bahkan global?
Jawabannya hari ini masih memprihatinkan. Hampir tidak ada.
Banyak siswa dan mahasiswa kita hanya terjebak dalam rutinitas sekolah formal. Mereka tidak benar-benar diajarkan cara berpikir yang mendasar, objektif, dan kritis. Akibatnya, dorongan untuk membangun dan berkarya menjadi sangat minim.
Seperti yang pernah diingatkan Tan Malaka, rutinitas menghafal hanya membentuk otak mekanis seperti mesin, bukan manusia yang berpikir bebas dan berkehendak.
Data juga menunjukkan keprihatinan serupa. Berdasarkan Society Literacy Development Index, tingkat kesadaran literasi di Bone hanya sekitar 17,25%. Jika diprosentasikan, angkanya baru menyentuh ±30% dari total populasi.
Pemerintah Kabupaten dan Kepala Dinas Pendidikan harus memberi perhatian khusus untuk peningkatan literasi pendidikan di Kab. Bone, tegas A. Muh. Ihsan Amu, Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan SEMMI.
Selain pendidikan, kebudayaan juga harus menjadi perhatian serius. Nilai-nilai budaya perlu dikaji ulang dengan pendekatan lintas disiplin ilmu: budaya, politik, dan sosial. Kebudayaan jangan hanya berhenti pada objek mati atau seremoni.
Ia harus diangkat menjadi bahan kajian akademik dan penelitian ilmiah. Dengan begitu, Bone sebagai kota beradat bisa menjadi sentral kebudayaan di Sulawesi Selatan, bukan hanya penonton yang terjebak pada mistisisme dan kejayaan masa lalu semata.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah pendataan. Pemerintah perlu membangun database siswa dan mahasiswa asal Bone, baik yang menuntut ilmu di dalam maupun di luar daerah.
Tujuannya untuk memastikan nasib generasi penerus Bone. Pemerintah juga harus hadir melihat kendala ekonomi yang mereka hadapi.
Dinas Pendidikan Kab. Bone perlu memfasilitasi bantuan langsung agar cita-cita putra-putri daerah tidak terkubur karena persoalan biaya. Pemerintah tidak boleh hanya hadir saat ada yang berprestasi, tapi harus aktif memberi kontribusi nyata bagi seluruh siswa dan mahasiswa.












