Hukum Dan Kriminal

Indonesia Emas : Tantangan, Peluang Dan Kontibusi Pemuda Dalam Menjemput Bonus Demografi Pada Momentum Pilkada

3471
×

Indonesia Emas : Tantangan, Peluang Dan Kontibusi Pemuda Dalam Menjemput Bonus Demografi Pada Momentum Pilkada

Sebarkan artikel ini

Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki populasi penduduk terbanyak didunia terkhusus pada golongan pemuda. diketahui bahwa dalam beberapa dasawarwa ke depan akan mengalami fase bonus demografi / dominasi jumlah penduduk dengan usia produktif.

Namun disisi lain harus kita akui kedudukan pemuda terhadap peran & fungsi hari ini masih dibilang sangat terbatas, baik dalam konteks sosial, ekonomi, pendidikan, hukum dan politik yang memberikan makna distorsi terhadap pemuda hari ini

penyebabnya juga beraneka ragam, penulis melihat aspek internal pemuda yang melahirkan metabolika tersebut bersumber dari kurangnya kesadaran akan potensi dan peluang yang menanti kehadiran pemuda sehingga minimnya pengetahuan dan pengalaman yang ditempuh membuat nilai dan skill pemuda mengalami degradasi bahkan terancam punah, sedangkan permintaan maupun tuntutan untuk mengisi ruang tersebut tidak pernah terputus

Akibat dari minimnya kesadaran diri yang dimiliki hari ini menciptakan potensi serta faktor eksternal menyelami kondisi pemuda sangat rentan untuk terpengaruhi karena tidak memiliki keberpihakan ideologi yang jelas dan produktif, sehingga bukan hanya menjadi korban tetapi turut menjadi pelaku dalam problem bangsa hari ini, seperti penggunaan media yang tidak tepat sasaran, terjerumus berita hoax, terjaring kasus kriminal bahkan terlibat sebagai aktor narkoba yang berpotensi besar merusak bangsa secara jariyah

Maka sebagai upaya untuk mengantipasi kejadian tersebut tidak terjadi, penulis mengajak pemuda terlebih dahulu melakukan intropeksi diri secara menyeluruh tentang kedudukan dan potensi yang dimiliki dalam menjemput peran dan tanggung jawab tersebut, dengan menimbang ungkapan Antonio Gramsci “ Bahwa Perubahan Tidak terjadi Atas Paksaan maupun Kebiasaan, Hal tersebut berangkat dari Aspek Kesadaran Internal” .

Bahkan saat pemuda telah memenuhi kebutuhan dirinya melalui medan yang meningkatkan dan mengembangkan kualitas diri, penulis juga mengundang untuk terlibat berkontribusi melalui sumbangsi gagasan maupun gerakan yang bersifat revolusioner, dengan mempertimbangkan kondisi dari beberapa pemuda hari ini yang produktif tapi hanya berdiam diri dan lebih memilih untuk menerima keadaan.

Terkhusus dalam rangka politik, tidak sedikit pemuda yang antipati dan apatis dalam melihat dinamika tersebut, padahal centralitas aspek tersebut sangat mempengaruhi kondisi dan perkembangan suatu wilayah, dikarenakan beberapa kebijakan yang dibuat serta aturan yang ditetapkan tidak terlepas pada konsensus jejaring politik, sedangkan keterlibatan kenyataan hari ini pemuda masih sangat minim terlibat dan berkontribusi.

Sehingga penulis juga mengharapkan keterlibatan pemuda dalam mengambil ruang dan peran sebagai aktor dalam civitas politik, paling tidak memulai dari hal sekeliling dan momentum yang mendatang seperti pilkada, keterlibatan juga tidak hanya menghendaki seseorang secara langsung sebagai aktor utama / kandidat, tetapi juga dapat dimaknai sebagai penggunaan hak suara yang berdiri pada ranah objektif, meminimalisir isu sara secara horizontal dan sikap toleransi dalam berpolitik

Pemuda mesti mengisi diri dengan bersungguh – sungguh guna membangun nilai serta menjemput segala potensi yang ada, mengikis ego dan memperdalam pengetahuan serta pengalaman yang luar sebagai bekal, terlebih ruang dan tanggung jawab yang menanti tidaklah kecil, penulis sangat termotivasi dalam ungkapan tokoh Amerika Zig Ziglar “ Bahwa kita tidak harus besar untuk memulai, tetapi Memulailah Untuk Menjadi Besar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *