Makassar – Derap langkah yang mantap memecah suasana pagi di lapangan upacara Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 16, pada Rabu (1/7/2026).
Di hadapan ratusan peserta upacara dan para tamu undangan, seorang polisi wanita berdiri tegak memegang kendali jalannya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80.
Sosok itu adalah AKBP Rise Sandiyantanti, SH, SIK, MSi. Berpangkat perwira menengah (pamen) dan saat ini menjabat Kapolres Pelabuhan Makassar, Rise Sandiyantanti menjadi figur yang mencuri perhatian dalam peringatan HUT Bhayangkara tahun ini.
Bukan tanpa alasan, sebab untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, posisi komandan upacara dipercayakan kepada seorang perwira polisi wanita.
Di bawah langit Kota Makassar, Rise tampil tenang namun penuh wibawa. Setiap aba-aba yang keluar dari suaranya terdengar tegas dan jelas.
Langkahnya terukur saat memimpin setiap tahapan prosesi. Tidak terlihat keraguan sedikit pun ketika ia mengendalikan ritme upacara yang diikuti ratusan personel TNI-Polri dan unsur instansi terkait.
Momen yang paling menyita perhatian hadir ketika ia menyampaikan laporan kepada inspektur upacara.
“Lapor! upacara HUT Bhayangkara ke-80, siap dilaksanakan,” ucap Rise dengan suara lantang.
Dari podium kehormatan, Kapolda Sulsel Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menjawab singkat namun penuh makna.
“Lanjutkan.”
Saat sesi penghormatan berlangsung, tangan Rise tampak lincah memainkan pedang pora atau sabel yang menjadi bagian dari tata upacara. Gerakannya presisi, memperlihatkan perpaduan disiplin, pengalaman, dan kepemimpinan yang telah ditempa bertahun-tahun di institusi kepolisian.
Bagi lingkungan kepolisian Sulawesi Selatan, nama Rise bukan sosok baru. Perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2005 itu, sebelumnya pernah bertugas sebagai Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sulsel sebelum dipercaya memegang tongkat komando sebagai Kapolres Pelabuhan Makassar.
Istri Direktur Kriminal Umum Polda NTB itu, juga dikenal memiliki latar belakang akademik yang lengkap. Mulai dari Sarjana Hukum (SH), Sarjana Ilmu Kepolisian (SIK), hingga Magister (MSi).
Momentum HUT ke-80 Bhayangkara sendiri menjadi refleksi perjalanan panjang Kepolisian Republik Indonesia.
Dalam amanat yang dibacakan Kapolda Sulsel, Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro menegaskan bahwa Hari Bhayangkara merupakan tonggak penting dalam sejarah Polri.
Delapan puluh tahun silam, tepatnya 1 Juli 1946 melalui Penetapan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1946, kepolisian ditetapkan sebagai institusi yang berdiri langsung di bawah pemerintah.
Menurutnya, keputusan tersebut menandai lahirnya Polri sebagai alat negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat.
Selama delapan dekade perjalanan bangsa, kata Djuhandhani, Polri telah melewati berbagai tantangan—mulai dari menjaga kemerdekaan, mempertahankan keutuhan NKRI, hingga menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
“Semua itu menjadi bekal berharga untuk terus bertransformasi menjadi institusi yang profesional, modern, berintegritas dan semakin dipercaya masyarakat,” tuturnya.
Peringatan HUT Bhayangkara ke-80 di Mapolda Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, juga diwarnai pembacaan Tri Brata Polri sebagai pedoman hidup dan sumpah pengabdian anggota Polri.
Selain itu, sejumlah personel yang dinilai memiliki dedikasi tinggi dan tidak pernah melakukan pelanggaran menerima penghargaan dari Presiden Prabowo Subianto.
Turut hadir dalam upacara tersebut jajaran Forkopimda Sulsel, di antaranya Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi, Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Dankodaeral VI Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, serta Panglima Kodau II Marsekal Muda TNI M Untung Suropati.
Di tengah semangat peringatan delapan dekade Bhayangkara, penampilan AKBP Rise Sandiyantanti menjadi simbol bahwa pengabdian dan kepemimpinan di tubuh Polri terus bergerak dan berkembang tanpa batas.(Jay)












