Hukum Dan Kriminal

Jembatan Roboh : Ketika Suara Perempuan Terhempas di Aliran Sungai

17
×

Jembatan Roboh : Ketika Suara Perempuan Terhempas di Aliran Sungai

Sebarkan artikel ini

Gemuruh air sungai desa hulo, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone menyisakan trauma mendalam bagi tumpahan ingatan warga dusun massaile (Bola Tellue). Hujan deras seolah menumpahkan seluruh isi langit tanpa ampun. Puncaknya, sebuah dentuman keras memecah kesunyian malam jembatan setinggi puluhan meter yang menjadi urat nadi satu-satunya desa tersebut, roboh diakibatkan arus air yang mengamuk. Kini, menyisakan luka yang mendalam yang tersisa hanyalah puing-puing bisu dan tumpukan keluhan dari mereka yang paling merasakan dampaknya.

Kaum Perempuan; Meletup Nasib dibalik keluh kesah.

Lulusan Sarjana Peternakan, Sri Melian Dani sangat memperihatinkan di kondisi yang terjadi di desanya.
“Semenjak jembatan ini anjlok, kami serasa terisolasi dari tanah sendiri” Ucapnya dengan nafas yang terhembus menatap ke seberang sungai.

Untuk bisa sampai ke tempat tujuan mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan melewati jalan tani atau dengan menyebrangi sungai dengan ketinggian hampir satu setengah badan warga.

Salah satu Bidan Desa, Andi Jusmiati, turut mengeluhkan sulitnya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat akibat rusaknya akses menuju desa.
“Kondisi tersebut menyulitkan tenaga kesehatan untuk menjangkau warga yang membutuhkan bantuan, terutama dalam situasi darurat. Keterbatasan akses menyebabkan pelayanan kesehatan tidak dapat diberikan secara cepat dan optimal, sehingga dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan masyarakat yang membutuhkan penanganan segera,” ujarnya

Pendidikan : Patah semangat akibat musibah

Dampak yang paling menyakitkan dari lumpuhnya akses ini adalah para anak-anak yang mau berangkat ke sekolah.
“rusaknya jembatan tersebut telah menghambat aktivitas sehari-hari masyarakat, terutama anak-anak yang kesulitan untuk berangkat karena tidak memiliki akses penyebarangan yang aman. kondisi ini mengakibatkan banyak siswa yang terlambat, bahkan tidak dapat hadir mengikuti kegiatan belajar mengajar”. ucap Nurhayati salah satu orang tua murid dengan nada tertati sambil memandangi anaknya yang sedang bermain.

bagi warga desa hulo, kemarahan mereka bukan hanya pada alam dan tingginya curah hujan, melainkan pada sikap apatis pemerintah daerah. sudah ribuan janji yang mereka keluarkan namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda alat berat atau material bangunan dari pemerintah yang datang untuk memperbaiki keadaan.

mereka berharap adanya perhatian dari pihak yang terkait dan segera mengambil tindakan untuk memperbaiki agar masyarakat desa hulo memperoleh hak dan melihat bagaimana kewajiban pemerintah untuk memenuhi hak setiap warga negaranya. Semoga keluhan ini dapat segera ditindaklanjuti demi kepentingan bersama.

Penulis: Salah satu warga dusun massaile yang enggan disebut namanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *